Hari ini mentari terlihat tidak bersahabat, mendung, awan kelabu pun perlahan menutupi, Entah mengapa. Disaat beberapa kawan lain sibuk mencari tempat untuk nonton piala dunia perdana, dan kawan lainnya mempersiapkan euforia piala dunia, aku masih terlihat kurang bersemangat, bukan karena bola, tapi sesuatu hal yang mengganjal sejak 3 hari lalu, padahal jujur aku sangat sekali suka bola, bola adalah inspirasi, bagiku bola bukan hanya sebuah permainan, tapi cobalah kita melihat bola dari sudut pandang lain, ketika kita berada di lapangan seolah-olah itu panggung kehidupan, ketika bermain seolah-olah kita sedang menjalaninya, bukan egoisme yang ditunjukkan untuk menjadi bintang yang mendapatkan sepatu emas saja, tetapi bagaimana kita bekerja sama dan menaruh pula harapan pada orang lain untuk mendapatkan tujuan mulia, kemenangan, kemenangan dengan arti luas, bukan hanya aku yang memasukan gol, atau temanku, tapi semua orang yang di sekitarku. Bagiku bola bukanlah sekedar permainan yang harus berakhir ricuh, tapi bagaimana kau menghargai teman, menghargai perjuangan, dan yang terpenting adalah berbuatlah yang terbaik, bukan untuk dirimu tetapi orang-orang disekitarmu.

Rasa tak semangat itu kembali ku enyahkan, ku coba untuk mencari topik baru, menghilangkan segala sedih yang ada, tapi entah mengapa, bukannya aku mencari hal yang lebih inspiratif, tetapi malah mentertawakan dan menjahili seorang kawan, aku tertawa lepas, tapi sejujurnya tak bermanfaat, kesenangan sesaat. Rasa ini masih hambar, aku masih gelisah, mungkin Allah tak mengendaki kebahagian dengan cara buruk, menjahili orang lain. Astagfirullah.
Pukul 14.00, aku dan beberapa kawanku bergegas menjenguk seorang dosen kami, dosen yang baik dan juga inspiratif, memang kami sudah berencana sejak rabu lalu, tetapi selalu saja ada halangan, entah aku sendiri yang tidak memprioritaskan atau entahlah …
Sejujurnya, sejak aku tidak menjadi mahasiswa kedokteran dan beberapa hal yang membuat traumatik menstimulus syaraf-syarafku untuk mengatakan ‘aku takut’, ya memang aku memiliki ketakutan yang berlebihan pada rumah sakit dan kawan-kawannya, dulu pernah sewaktu kecil sebuah operasi harus ku jalani, pengambilan dalah hampir 7 kali, dan karena usiaku masih kecil semua itu tidak jadi, alhasil aku hanya merasakan sakit yang teramat sangat. Lain lagi dengan klinik di sekitar rumahku, seorang dokter yang kini sudah almarhum, mengambil plester luka dan gunting, aku menjerit, karena ku pikir akan dioperasi, padahal beliau hanya ingin mengobati luka dikakinya, aneh. Namun sejak aku berambisi menjadi dokter, semuanya ku hilangkan, dulu yang takut, sekarang mencoba sok berani, padahal jadi salah tingkah, tetap saja gemetar. Tapi entah, tidak bermaksud frustasi, tapi semua ketakutan itu muncul kembali, sejak aku melihat seorang tertabrak hingga luka parah, hingga adikku masuk rumah sakit, dan hal-hal menakutkan lainnya, yang membuatku takut dan selalu berfikir negatif tentang semua itu.
Meski keadaan itu perlahan mulai ku coba, meskipun terkadang aneh, aku cukup ahli mengambil sampel darah dalam volume amat kecil, karena biasanya ketika aku diperiksa darah, aku selalu mengambilnya sendiri, tak mau dengan orang lain, alhasil semuanya terlihat aneh. Ya meskipun begitu, aku terus berusaha, dan semua itu sedikit reda sejak kakekku meninggal dunia, beliau meninggal karena tak bisa mendapatkan darah dengan golongan sama, dan semenjak itu, jika aku ada kesempatan dan kondisiku memungkinkan aku mulai mencoba berdonor, meski aku harus melawan jarum suntik yang sebenarnya tidak begitu sakit tapi fobiaku yang berlebihan, meskipun darahku terlampau banyak orang memiliki, tetapi apa salahnya, semoga tak ada orang lain yang mengalami hal seperti kakekku.
Masih seputar rumah sakit, ketika ku datang ku mendapati ruang GICU, seolah semua itu hadir kembali. Rumah sakit yang sama ketika kakekku berpulang, kondisi yang sama, sedih. Dengan sedikit gemetar aku memberanikan diri masuk ke ruangan yang menurutku menakutkan. Dan seketika perasaanku luluh, melihat beberapa orang dalam pembaringan, semuanya sedang melawan sakit yang teramat sangat, pacu jantung bekerja, belalai-belalai menyakitkan terpasang, semua dokter dan perawat sibuk mengamati kondisi pasien, semua tegang, doa-doa berpilin ke langit memohon kesembuhan kepada Sang Khalik. Sedih, betapa seharusnya aku bersyukur dengan keadaanku sekarang, Allah masih memberiku nikmat sehat, ketika sakit datang semuanya tidak berguna, uang, jabatan, atau kehidupan dunia lainnya, tapi hanya sehat yang diinginkan. Perih, melihat seorang pasien jantungnya melemah dan semuanya sibuk, aku masih terdiam, aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan ketika sampai aku melihat dosenku, rasanya perasaan ini berkecamuk, entah, entah apa lagi yang kurasakan saat itu, dosenku yang selalu semangat dan inspiratif, kini sedang berjuang melawan sakitnya, semoga Allah berkenan memberi kesembuhan, Allah tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya, “Pak, terima kasih banyak untuk segala ilmunya, semoga cepat sembuh, terus semangat berjuang, dan semoga keluarga bapak terus semangat dan diberi kekuatan, Semoga Allah memberikan kesembuhan” Tanpa sepatah katapun, aku kembali keluar. Perih sekali hati ini, aku jadi teringat kondisi kakekku dulu, sama, aku harus merasakan hal yang sama, sama perihnya.
Terkadang kita sering lupa, bahwa Allah selalu memberi keindahan dan kenikmatan yang tiada duanya, akal untuk berpikir, paru-paru untuk bernafas, dan segala kenikmatan lainnya, namun sering sekali tidak bersyukur dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Dan kita terkadang mengagungkan dunia, tanpa kita sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya akhirat. Kita lupa.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
QS. ar-Rahman (55) : 13
Papan pengumuman di luar ruangan tersebut bertuliskan nama pasien, alamat, dan umur, semuanya bervariasi, bukan hanya tua muda ataupun hal-hal spesifik lainnya, dan aku sadar semua ini rencana Allah, semua ini menjadi hikmah. Keluarga pasien setia menunggu dan berdoa sekuat tenaga semoga secercah harapan datang, tidak ada kata pesimis, Jika Allah berkehendak, semuanya mungkin, Kun Fayakun ….
Ya Rabb, yang menguasai hati-hati ini, mungkin hati ini resah karena ujian, mungkin hati ini gelisah karena hal yang tak bermanfaat, dan mungkin syukur ini tak pernah yakin ku lakukan. ‘Aku ikhlas dan aku bersyukur’ dan kata itu hanya di mulut, tidak merasuk ke dalam hati, menstimulus otak, dan menghantarkan pesan ke seluruh tubuh, aku salah. Ya Rabb, semoga jika Engkau memberiku kesempatan, berikanlah aku kekuatan untuk memanfaatkan sebaik-baiknya, jangan jadikanku hamba yang merugi …. Karena sesal tidak pernah bisa mengembalikan semua yang terjadi ….
Menjadi orang yang kuat, tegar dan bijak, bukan mengandalkan ketakutan ataupun traumatik, masa lalu itu penting, tapi bukan untuk menghambat berbuat baik, trauma itu ada tetapi bukan bayangan kehidupan. Bersyukur dan ikhlas menghadapi semua, Allah tau jalan yang terbaik, dan semuanya itu mungkin membuat kita lebih dewasa dan lebih memaknai hidup, belajar menjadi insan yang lebih baik. Insya Allah….. Amin Ya Rabbal ‘alamin