Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam,
Hari ini jum’at, 28 Januari 2011, di ujung malam ini, aku ingin berbagi, berbagi cerita dan makna, maaf jika keluhku membuat kau ikut mengeluh, maaf jika perihku membuatmu luka. Entah apa yang direncanakan Allah untukku, untukku yang terkadang masih berpaling dari-Nya. Ini kisahku hari ini, hanya satu hari, namun perjalan ini terasa panjang, begitu menjuntai, dan aku tersadar, aku hanyalah manusia biasa, bisa menangis, tertawa, mau pun diam seribu bahasa.
Pagi ini aku bangun, begitu segar, semalam kemarin aku tidur di kampus, di mushala, satu-satunya yang ku pikir bisa kujadikan tempat saat itu untuk melepas lelah, terlalu malam karena lalai, mengulur waktu hingga tak dapat kendaraan umum, rasa takut dan tak biasa kuhempaskan seiring dengan rasa lelahku yang begitu berat. Mungkin ini rasanya, menjadi orang yang memiliki tempat tinggal, kaku, dingin, dan pegal, aku masih bersyukur karena tidurku beralaskan karpet hangat, ada sarung dan jaket temanku, ruangannya tertutup, dan hanya sehari. Aku sadar aku tak pantas mengeluh, karena banyak orang di luar sana, yang tidur beratapkan langit, berdindingkan pohon, beralaskan tanah, mereka tetap tidur, merasa nyaman, meski bahaya sewaktu-waktu mengancam. Mandi di kampus, berlari mengambil baju ganti, berlari menuju kelas selepas merapikan diri, benar-benar pengalaman pertamaku, mungkin tanpa persiapan dan terkesan nekad, tapi sungguh, aku benar-benar terpaksa.
Kembali pada hari ini, aku merasa sangat nyaman, tidurku begitu pulas, meski mimpi aneh sedikit membuatku lelah dalam pikiran, tapi aku hanya berdoa, semoga hanya bunga tidur, dan semoga Allah memberi hikmah untuk terus ingat dengan-Nya. Pagi ini serba telat, biasanya aku berangkat pukul enam kurang sepuluh, tapi nampaknya hari ini lebih siang sedikit, mungkin aku masih lelah. Pagi ini ku pikir tak ada yang berbeda, seperti biasa, hanya saja aku tak sarapan hari ini, karena belum terlalu lapar nampaknya. Ups, bensin mobil habis, harus diisi, mengeluarkan uang terasa berat, meskipun itu kewajiban, sedikit menyesal, uang isi bensin sama naik angkot mahalan bensin, aku bergumam, lagi-lagi banyak mengeluh. Padahal di luar sana, masih banyak orang yang harus membagi penghasilannya bukan hanya untuk bensin, makan, sekolah putera-puterinya, dan pengeluaran lain yang semakin lama semakin berat. Hari itu, aku tersadar, mungkin pagi ini aku harus berpikir, jangan mengeluh, tapi harus banyak berpikir.
Petualangan imajinasiku dimulai, pagi ini aku baru menyadarinya, aku berangkat ke sekolah maupun ke kampus lebih sering menggunakan mobil pribadi dibandingkan angkutan umum, di saat banyak orang harus berangkat lebih pagi untuk mengejar angkutan umum ataupun berjalan kaki yang begitu jauh, sama seperti ayahku dan ibuku, sama seperti kakek nenekku yang harus berjalan untuk mengenyam pendidikan, lebih dari 10 KM, tapi aku selalu berpikir, “itukan dulu, memang benar, dulu tidak ada kendaraan, jangan salahkan hari ini ketika hidupku nyaman, itu bukan salahku”, aku terlalu sombong, mungkin beliau-beliau tak pernah bermaksud menarikmasa dulu ke masa kini, beliau hanya ingin memberikan mutiara kehidupan, tentang bagaimana indahnya nikmat bersyukur. Siapa bilang zaman dulu? Nyatanya hari ini, 2011, tak jarang orang-orang terdekatku yang masih berjalan kaki, jauh, lelah, dan membuat hati gundah. Seperti temanku Adit, yang harus berjalan kaki dari dago atas ke ITB, sehat, tapi menurutku lumayan, seperti sedang di OSPEK, seperti mahasiswa tanteku di salah satu universitas di dipati ukur, harus mengirit uang dengan berjalan dari tegalega hingga dipati ukur, dan beliau-beliau semua TIDAK PERNAH TELAT, aku malu, aku juga tinggal di tempat jauh, aku selalu datang lebih awal, tapi aku suka mengulur waktu jika ke kelas, meskipun hanya sesekali, tetap saja itu buruk.
Perutku mulai merasa lapar, mungkin karena tadi malam aku ‘hanya’ makan mie instan, sebenarnya bukan alasan, banyak orang yang tidak makan selama lebih dari satu hari, mereka masih merasa dirinya kenyang, mereka merasa bersyukur karena Allah hanya memberhentikan sementara nikmat makan, tapi tidak menghentikan nikmat hidup. Perut makin bersuara, orkes dangdut rupanya, pikiranku sudah membayangkan nanti aku akan makan bubur, kalau tidak lontong kari, masih ada uang di dompetku, cukup untuk 3 hari ke depan, mudah-mudahan. Imajinasiku semakin melanglang buana, mobilku terus berjalan, namun ku lihat seorang bapak mengais sampah mencari sisa nasi, ironis, disaat aku senang dengan imajinasi kulinerku, banyak orang yang tak makan, banyak orang yang mengais sisa, meskipun aku selalu berusaha menghabiskan makananku, bukan karena sayang tetapi aku selalu lahap, namun tak jarang banyak orang yang selalu tidak habis jika makan, sisa banyak, lalu dibuang, sedih,meskipun dulu ayahku selalu berkata,”kalau nasinya nggak habis, nanti nangis”, dulu kupikir hanya lelucon, masa nasi bisa nangis, lucu, kecuali kalau menjadi film animasi, RICE-MAN misalnya, pahlawan nasi. Padahal itu tataran filosofis, kalau nasi tidak habis, petani yang menanam susah payah akan sedih, karena jerih payahnya tidak dihargai, atau banyak orang yang menangis perih karena disaat orang lain berlebih makanan, mereka harus menahan laparnya ditemani angin yang melaju menuju lambungnya.
Mobilku masih melaju, ku lihat seorang kakek dan beberapa anak kecil, kakek itu membawa gerobak, anak-anak itu membawa karung, mengais sampah yang mungkin masih bisa dijual, kadang kita merasa jijik, pekerjaan yang selalu di cap rendah, tetapi mereka adalah pahlawan lingkungan yang mencoba mendaur ulang sampah yang begitu tak hingga. Kakek itu sudah tua, tapi tak pernah meminta, tetap kerja keras, disaat di luar sana banyak yang lebih muda, yang lebih sehat, yang lebih mampu, tetapi memilih jalan hitam, merampok, mencuri, korupsi, dan lainnya. Tak pernah merasa lelah oleh waktu, asalkan halal Insya Allah ada jalan, Rezeki manusia tak kan pernah tertukar. Anak-anak kecil itu, memang tidak sekolah? Mungkin belum berkesempatan, karena harus mencari sesuap nasi, kadang aku selalu berpikir, mengapa orang tua mereka tidak peduli, mungkin aku terlalu egois, bukan orang tua mereka yang memaksa terkadang, tetapi keadaan. Aku seharusnya lebih semangat dan bersyukur, aku harusnya lebih banyak berbuat untuk orang lain, dari sekedar mencari kebanggaan diri. Aku masih ingat di saat aku masuk SMA, aku masuk SMA Favorit dibandung, tak semua orang berkesempatan masuk kesana, tapi aku mengundurkan diri disaat pendaftaran berhenti, dulu aku bangga, ketika ku masuk SMA itu, karena NEM ku cukup bersaingin, aku merasa mudah memilih SMA yang ku mau, iseng-iseng daftar disana-sini, tetapi aku tidak berpikir, satu bangku yang kurebut, membuat satu orang diantara ribuan lainnya terkendala, aku tak berpikir mungkin saja anak itu frustasi karena tidak masuk SMA favorit, atau mungkin juga dimarahi orang tuanya habis-habisan padahal NEM nya mepet. ASTAGFIRULLAH. Harusnya saat itu aku tobat, dan lagi-lagi aku mengulanginya, semua tes perguruan tinggi ku ikuti, dari mulai PMDK, Ujian Mandiri, sampai SPMB, lagi-lagi berpikir sama, biarin deh keterima banyak, nanti kan tinggal milih, sungguh egois, berpikir pendek, disaat aku merebut bangku yang seharusnya menjadi hak orang lain, aku masih belum tersadar, banyak orang di luar sana yang banyak ku rugikan, banyak kuambil kesempatannya, dan aku begitu sangat egois kalau kini aku tak banyak berbuat untuk orang lain, setidaknya aku harus menanggung minimal 1000 nasib orang di luar sana, harus memberikan kontribusi dan lapangan kerja.
Mobilku masih melaju, di beberapa perempatan, banyak kutemui musafir jalanan, anak-anak maupun orang tua, meskipun banyak selentingan ‘mengatakan jangan memberi uang karena akan membuat mereka malas’, tapi hatiku begitu perih, andaikan disetiap pagi, siang, dan malam aku tak pernah liat banyak orang mengemis, meminta, tidur di kolong-kolong jembatan, berlari di tengah gelap malam, aku hanya bisa berandai, berharap suatu saat nanti semua orang bisa berkecupan. Disaat aku makan, tak ada orang lain yang lapar, disaat aku tidur, tak ada orang yang masih terjaga, disaat aku sekolah, tak ada anak yang tak mengecap bangku sekolah, MUNGKIN? Insya Allah. Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, jika sudah kehendak-Nya.
Pagi ini banyak orang yang beraktifitas, penyapu jalan, tukang parkir, dan lainnya, mencari rezeki berlomba dengan terbitnya mentari. Begitu semangat, disaat aku terkadang merasa meluruh.
Mobil sampai, aku turun, ternyata aku bertemu dengan sahabatku, Ira, pemilik cerita ABAH ODAM The Series, selalu lucu, ada Edisi ODAM Sari, Odol cap pembersih, dan yang terbaru, PEMUTIH Pakaian yang dikira shampo, Kepala bukan jadi putih malah kepanasan, ada-ada saja, kadang aku tertawa terbahak, tetapi dilain pihak kasihan, ternyata masih ada banyak informasi yang belum tersampaikan ke orang-orang di belahan sana. Tentang informasi, aku jadi ingat teknologi yang temanku ceritakan, kata temanku yang beliau dengar dari guru kami, ‘Kita ini berada zaman teknologi tinggi, tetapi masih menganut mental kulit pisang’ Dulu banyak orang mengkonsumsi bahan yang ada di alam, salah satunya pisang, ketika pisang telah dimakan, kulitnya di buang ke tanah dan terurai, ketika sekarang berada di zaman teknologi canggih, konsumsi kita banyak yang canggih, contohnya kemasan plastik, tetapi ikut dibuang sembarangan seiring dengan dibuangnya kulit pisang seperti dahulu, analogi yang ekstrem tetapi sangat masuk akal, harus direnungkan!
Aku menuju himpunan, sambil senyum-senyum sendiri. Langsung ku buka laptop, mencari beberapa informasi di internet dan mengerjakan beberapa hal. Seperti biasa tidak ada yang luar biasa. Aku kuliah, pelajaran hari ini, Prof. Buchari, yang mengajar Salah satu dosen terbaik kami. Murah senyum, suka melucu walau terkadang aneh, dan sangat sabar. Kadang kami suka telat, suka ribut, tetapi beliau sabar. Aku menitikkan air mata, aku sadar, dosenku ini begitu baik, dan beliau mengulur waktu pensiunnya, untuk mengabdi, berbagi ilmu dengan anak-anaknya, namun terkadang aku acuh, padahal banyak tenaga dan keringat yang beliau keluarkan tanpa harapan apapun.
Siang hari aku ada seminar pengetahuan, banyak penelitian luar biasa, banyak masukan dan pengetahuan baru, banyak hal yang belum aku tau, aku tersadar, Aku takut jatuh cinta dengan KIMIA, walau kini aku menikmatinya. Salah satu profesorku, Prof. Sjamsul A.A berkata, “banyak ilmu dan hayati Indonesia yang harus digali tentunya dengan mengkombinasikan dan bekerja sama untuk kemajuan bangsa dan negara.” Sebenarnya banyak yang bisa kita hasilkan, banyak yang harus kita bagi dengan bangsa ini, negeri ini rindu para pemudanya. Ditambahkan beliau, ada selipan khutbah jumat, menurut khatib,”banyak orang cinta harta, cinta jabatan, cinta pekerjaan, cinta status, dan cinta fana lainnya, tapi pernahkah kita mengintegrasikan dan mentransformasikan cinta dunia tersebut dengan cinta kepada Allah dan bermanfaat bagi banyak orang.” Patut direnungkan !
Banyak orang berdedikasi untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini, sampai tua, sampai bekerja dengan hati, sampai bekerja dengan mengabdi, tanpa gaji, tanpa penghargaan, hanya pengabdian dan keikhlasan yang diberikan, semua itu hanya untuk putra-putri terbaik bangsa untuk selalu mengabdi pada Tuhan dan berbakti pada negeri.
Sore ini aku kekunci di kamar mandi, entah mengapa kunci kamar mandi itu cepat sekali rusak, kurang dari 2 bulan. Memang terkadang kita banyak tidak ‘apik’ terhadap barang-barang disekitar kita, mengotori, merusak, dan itulah yang membuat keburukan datang kepada kita. Karena Allah memerintahkan manusia, “Janganlah membuat kerusan di muka bumi”. Mungkin aku juga pernah, mungkin mereka pernah, dan kini harus sadar bahwa, itu bukanlah hal yang baik.
Aku pulang selepas magrib, selepas mendownload jurnal-jurnal dari luar negeri, dari kawanku yang pernah sekolah di luar negeri, sungguh mudah, dan kalau aku sendiri amatlah sulit.
Aku pulang menggunakan angkutan umum, hari itu, angkot terlihat sepi, penumpangnya hanya aku, dan ada penumpang lain setelah berjalan 500 meter kemudian, naik lagi sepasang ibu dan bapak yang cukup harmonis, ditengah perjalan, tiga orang wanita berpakaian hitam dan berdandan begitu manis naik, aku kurang tau saat itu jam berapa, tapi ku pikir masih kurang dari jam setengah 8. Aku kaget setelah mengetahui mereka akan ke tempat lokalisasi, menjajakan harta yang seharusnya dipelihara, aku terperangah, aku tau karena aku mendengar percakapan mereka, meski tak baik menguping namun aku terpaksa, karena headsetku rusak, mereka masih memiliki suami, memiliki anak, entah mengapa mereka melakukannya. Astagfirullah, semoga Allah memberi jalan. Salah satunya berkata, Terkadang jika sedang cek-cok dengan suami mereka, mereka lampiaskan ke anak mereka, lalu pergi ke tempat lokalisasi, sungguh begitu perih. Disaat Masih banyak orang yang bekerja begitu keras, tak patah arang, dilain pihak banyak orang yang memilih jalan hitam, tanpa berpikir panjang, Allah amat mencintai pekerjaan halal. Allah pasti menjamin rezeki hamba-Nya, tak ada yang Allah tukar, tinggal bagaimanakah usaha kita, sedikit, banyak, atau lari dari keadaan. Semoga Allah mengampuni dan memberi jalan hidayah-Nya.
Aku turun dari angkot, malam begitu gelap, benar-benar tanpa bintang, mendung. Lelah pikirku, disaat aku pulang beberapa orang pergi bekerja, lelah sekali pikirku, supir angkot malam, suster yang bekerja malam, dan pekerjaan yang menuntut harus terjaga dimalam-hari, Aku suka mengeluh, padahal setiap malam aku bisa istirahat, namun tak jarang orang diluar sana terjaga, bekerja, mencari nafkah, menunaikan amanah dan kewajiban.
Alhamdulillah sampai rumah, dan ku dengar dari adikku, teman adikku menghadap Allah SWT, karena menjadi korban perampokan kendaraan bermotor. Aku masih ingat ketika adikku masuk SMP, SMP negri, SMP yang berbeda dari kedua kakaknya, dan mungkin di SMP inilah yang mengajarkan adikku bagaimana sulitnya mencari uang, bagaimana beberapa orang banyak yang tidak beruntung. Salah satunya teman adikku ini, dua tahun beliau tinggal di departemen sosial, karena orang tuanya tidak mampu, dan masih ingat ketika adikku menceritakan kepadaku bahwa teman-teman sekolahnya patungan untuk membiayai ongkos pulang teman adikku itu ke sumedang, Sungguh kepedulian teramat sangat, dan hari ini adikku pergi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk melepas kepergiannya terakhir kali. Semoga Allah memberikan ampunan dan selalu Allah beri tempat yang indah, diterima amal dan ibadahnya. Semoga perampok itu sadar, bahwa ia telah menghilangkan nyawa seorang anak yang tak berdosa, menghapus impian yang anak itu lukiskan di setiap mimpi, menghapus cita yang begitu tinggi, dan melepas semua harap indonesia untuk menunggu puteranya membangun negeri.
Malam ini kututup dengan berita seseorang yang sangat sulit mengahadapi kematian. Allahu’alam. Semoga kita selalu memperbaiki amal ibadah kita. Sehingga memiliki bekal untuk kehidupan akhir nanti. Insya Allah
Astagfirullahaladzim, semoga Allah senantiasa mengampuniku. Banyak pelajaran yang kudapat hari ini, banyak makna yang tergali hari ini. Kehidupan ini pada dasarnya sementara, pada dasarnya hidup ini pilihan, dan hanya kepada Allah lah kita berharap dan berserah diri.
Semoga selalu menjadi hamba yang dekat dan cinta dengan-Nya dan semoga Allah selalu memberkahi dan memberikan pertolongan …
Untuk Tuhan, Untuk orang-orang sekelilingku, untuk negeriku, untuk bangsaku ….
Semoga menjadi Insan yang terus memperbaiki diri, Insya Allah …
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam,
Hari ini jum’at, 28 Januari 2011, di ujung malam ini, aku ingin berbagi, berbagi cerita dan makna, maaf jika keluhku membuat kau ikut mengeluh, maaf jika perihku membuatmu luka. Entah apa yang direncanakan Allah untukku, untukku yang terkadang masih berpaling dari-Nya. Ini kisahku hari ini, hanya satu hari, namun perjalan ini terasa panjang, begitu menjuntai, dan aku tersadar, aku hanyalah manusia biasa, bisa menangis, tertawa, mau pun diam seribu bahasa.
Pagi ini aku bangun, begitu segar, semalam kemarin aku tidur di kampus, di mushala, satu-satunya yang ku pikir bisa kujadikan tempat saat itu untuk melepas lelah, terlalu malam karena lalai, mengulur waktu hingga tak dapat kendaraan umum, rasa takut dan tak biasa kuhempaskan seiring dengan rasa lelahku yang begitu berat. Mungkin ini rasanya, menjadi orang yang memiliki tempat tinggal, kaku, dingin, dan pegal, aku masih bersyukur karena tidurku beralaskan karpet hangat, ada sarung dan jaket temanku, ruangannya tertutup, dan hanya sehari. Aku sadar aku tak pantas mengeluh, karena banyak orang di luar sana, yang tidur beratapkan langit, berdindingkan pohon, beralaskan tanah, mereka tetap tidur, merasa nyaman, meski bahaya sewaktu-waktu mengancam. Mandi di kampus, berlari mengambil baju ganti, berlari menuju kelas selepas merapikan diri, benar-benar pengalaman pertamaku, mungkin tanpa persiapan dan terkesan nekad, tapi sungguh, aku benar-benar terpaksa.
Kembali pada hari ini, aku merasa sangat nyaman, tidurku begitu pulas, meski mimpi aneh sedikit membuatku lelah dalam pikiran, tapi aku hanya berdoa, semoga hanya bunga tidur, dan semoga Allah memberi hikmah untuk terus ingat dengan-Nya. Pagi ini serba telat, biasanya aku berangkat pukul enam kurang sepuluh, tapi nampaknya hari ini lebih siang sedikit, mungkin aku masih lelah. Pagi ini ku pikir tak ada yang berbeda, seperti biasa, hanya saja aku tak sarapan hari ini, karena belum terlalu lapar nampaknya. Ups, bensin mobil habis, harus diisi, mengeluarkan uang terasa berat, meskipun itu kewajiban, sedikit menyesal, uang isi bensin sama naik angkot mahalan bensin, aku bergumam, lagi-lagi banyak mengeluh. Padahal di luar sana, masih banyak orang yang harus membagi penghasilannya bukan hanya untuk bensin, makan, sekolah putera-puterinya, dan pengeluaran lain yang semakin lama semakin berat. Hari itu, aku tersadar, mungkin pagi ini aku harus berpikir, jangan mengeluh, tapi harus banyak berpikir.
Petualangan imajinasiku dimulai, pagi ini aku baru menyadarinya, aku berangkat ke sekolah maupun ke kampus lebih sering menggunakan mobil pribadi dibandingkan angkutan umum, di saat banyak orang harus berangkat lebih pagi untuk mengejar angkutan umum ataupun berjalan kaki yang begitu jauh, sama seperti ayahku dan ibuku, sama seperti kakek nenekku yang harus berjalan untuk mengenyam pendidikan, lebih dari 10 KM, tapi aku selalu berpikir, “itukan dulu, memang benar, dulu tidak ada kendaraan, jangan salahkan hari ini ketika hidupku nyaman, itu bukan salahku”, aku terlalu sombong, mungkin beliau-beliau tak pernah bermaksud menarikmasa dulu ke masa kini, beliau hanya ingin memberikan mutiara kehidupan, tentang bagaimana indahnya nikmat bersyukur. Siapa bilang zaman dulu? Nyatanya hari ini, 2011, tak jarang orang-orang terdekatku yang masih berjalan kaki, jauh, lelah, dan membuat hati gundah. Seperti temanku Adit, yang harus berjalan kaki dari dago atas ke ITB, sehat, tapi menurutku lumayan, seperti sedang di OSPEK, seperti mahasiswa tanteku di salah satu universitas di dipati ukur, harus mengirit uang dengan berjalan dari tegalega hingga dipati ukur, dan beliau-beliau semua TIDAK PERNAH TELAT, aku malu, aku juga tinggal di tempat jauh, aku selalu datang lebih awal, tapi aku suka mengulur waktu jika ke kelas, meskipun hanya sesekali, tetap saja itu buruk.
Perutku mulai merasa lapar, mungkin karena tadi malam aku ‘hanya’ makan mie instan, sebenarnya bukan alasan, banyak orang yang tidak makan selama lebih dari satu hari, mereka masih merasa dirinya kenyang, mereka merasa bersyukur karena Allah hanya memberhentikan sementara nikmat makan, tapi tidak menghentikan nikmat hidup. Perut makin bersuara, orkes dangdut rupanya, pikiranku sudah membayangkan nanti aku akan makan bubur, kalau tidak lontong kari, masih ada uang di dompetku, cukup untuk 3 hari ke depan, mudah-mudahan. Imajinasiku semakin melanglang buana, mobilku terus berjalan, namun ku lihat seorang bapak mengais sampah mencari sisa nasi, ironis, disaat aku senang dengan imajinasi kulinerku, banyak orang yang tak makan, banyak orang yang mengais sisa, meskipun aku selalu berusaha menghabiskan makananku, bukan karena sayang tetapi aku selalu lahap, namun tak jarang banyak orang yang selalu tidak habis jika makan, sisa banyak, lalu dibuang, sedih,meskipun dulu ayahku selalu berkata,”kalau nasinya nggak habis, nanti nangis”, dulu kupikir hanya lelucon, masa nasi bisa nangis, lucu, kecuali kalau menjadi film animasi, RICE-MAN misalnya, pahlawan nasi. Padahal itu tataran filosofis, kalau nasi tidak habis, petani yang menanam susah payah akan sedih, karena jerih payahnya tidak dihargai, atau banyak orang yang menangis perih karena disaat orang lain berlebih makanan, mereka harus menahan laparnya ditemani angin yang melaju menuju lambungnya.
Mobilku masih melaju, ku lihat seorang kakek dan beberapa anak kecil, kakek itu membawa gerobak, anak-anak itu membawa karung, mengais sampah yang mungkin masih bisa dijual, kadang kita merasa jijik, pekerjaan yang selalu di cap rendah, tetapi mereka adalah pahlawan lingkungan yang mencoba mendaur ulang sampah yang begitu tak hingga. Kakek itu sudah tua, tapi tak pernah meminta, tetap kerja keras, disaat di luar sana banyak yang lebih muda, yang lebih sehat, yang lebih mampu, tetapi memilih jalan hitam, merampok, mencuri, korupsi, dan lainnya. Tak pernah merasa lelah oleh waktu, asalkan halal Insya Allah ada jalan, Rezeki manusia tak kan pernah tertukar. Anak-anak kecil itu, memang tidak sekolah? Mungkin belum berkesempatan, karena harus mencari sesuap nasi, kadang aku selalu berpikir, mengapa orang tua mereka tidak peduli, mungkin aku terlalu egois, bukan orang tua mereka yang memaksa terkadang, tetapi keadaan. Aku seharusnya lebih semangat dan bersyukur, aku harusnya lebih banyak berbuat untuk orang lain, dari sekedar mencari kebanggaan diri. Aku masih ingat di saat aku masuk SMA, aku masuk SMA Favorit dibandung, tak semua orang berkesempatan masuk kesana, tapi aku mengundurkan diri disaat pendaftaran berhenti, dulu aku bangga, ketika ku masuk SMA itu, karena NEM ku cukup bersaingin, aku merasa mudah memilih SMA yang ku mau, iseng-iseng daftar disana-sini, tetapi aku tidak berpikir, satu bangku yang kurebut, membuat satu orang diantara ribuan lainnya terkendala, aku tak berpikir mungkin saja anak itu frustasi karena tidak masuk SMA favorit, atau mungkin juga dimarahi orang tuanya habis-habisan padahal NEM nya mepet. ASTAGFIRULLAH. Harusnya saat itu aku tobat, dan lagi-lagi aku mengulanginya, semua tes perguruan tinggi ku ikuti, dari mulai PMDK, Ujian Mandiri, sampai SPMB, lagi-lagi berpikir sama, biarin deh keterima banyak, nanti kan tinggal milih, sungguh egois, berpikir pendek, disaat aku merebut bangku yang seharusnya menjadi hak orang lain, aku masih belum tersadar, banyak orang di luar sana yang banyak ku rugikan, banyak kuambil kesempatannya, dan aku begitu sangat egois kalau kini aku tak banyak berbuat untuk orang lain, setidaknya aku harus menanggung minimal 1000 nasib orang di luar sana, harus memberikan kontribusi dan lapangan kerja.
Mobilku masih melaju, di beberapa perempatan, banyak kutemui musafir jalanan, anak-anak maupun orang tua, meskipun banyak selentingan ‘mengatakan jangan memberi uang karena akan membuat mereka malas’, tapi hatiku begitu perih, andaikan disetiap pagi, siang, dan malam aku tak pernah liat banyak orang mengemis, meminta, tidur di kolong-kolong jembatan, berlari di tengah gelap malam, aku hanya bisa berandai, berharap suatu saat nanti semua orang bisa berkecupan. Disaat aku makan, tak ada orang lain yang lapar, disaat aku tidur, tak ada orang yang masih terjaga, disaat aku sekolah, tak ada anak yang tak mengecap bangku sekolah, MUNGKIN? Insya Allah. Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, jika sudah kehendak-Nya.
Pagi ini banyak orang yang beraktifitas, penyapu jalan, tukang parkir, dan lainnya, mencari rezeki berlomba dengan terbitnya mentari. Begitu semangat, disaat aku terkadang merasa meluruh.
Mobil sampai, aku turun, ternyata aku bertemu dengan sahabatku, Ira, pemilik cerita ABAH ODAM The Series, selalu lucu, ada Edisi ODAM Sari, Odol cap pembersih, dan yang terbaru, PEMUTIH Pakaian yang dikira shampo, Kepala bukan jadi putih malah kepanasan, ada-ada saja, kadang aku tertawa terbahak, tetapi dilain pihak kasihan, ternyata masih ada banyak informasi yang belum tersampaikan ke orang-orang di belahan sana. Tentang informasi, aku jadi ingat teknologi yang temanku ceritakan, kata temanku yang beliau dengar dari guru kami, ‘Kita ini berada zaman teknologi tinggi, tetapi masih menganut mental kulit pisang’ Dulu banyak orang mengkonsumsi bahan yang ada di alam, salah satunya pisang, ketika pisang telah dimakan, kulitnya di buang ke tanah dan terurai, ketika sekarang berada di zaman teknologi canggih, konsumsi kita banyak yang canggih, contohnya kemasan plastik, tetapi ikut dibuang sembarangan seiring dengan dibuangnya kulit pisang seperti dahulu, analogi yang ekstrem tetapi sangat masuk akal, harus direnungkan!
Aku menuju himpunan, sambil senyum-senyum sendiri. Langsung ku buka laptop, mencari beberapa informasi di internet dan mengerjakan beberapa hal. Seperti biasa tidak ada yang luar biasa. Aku kuliah, pelajaran hari ini, Prof. Buchari, yang mengajar Salah satu dosen terbaik kami. Murah senyum, suka melucu walau terkadang aneh, dan sangat sabar. Kadang kami suka telat, suka ribut, tetapi beliau sabar. Aku menitikkan air mata, aku sadar, dosenku ini begitu baik, dan beliau mengulur waktu pensiunnya, untuk mengabdi, berbagi ilmu dengan anak-anaknya, namun terkadang aku acuh, padahal banyak tenaga dan keringat yang beliau keluarkan tanpa harapan apapun.
Siang hari aku ada seminar pengetahuan, banyak penelitian luar biasa, banyak masukan dan pengetahuan baru, banyak hal yang belum aku tau, aku tersadar, Aku takut jatuh cinta dengan KIMIA, walau kini aku menikmatinya. Salah satu profesorku, Prof. Sjamsul A.A berkata, “banyak ilmu dan hayati Indonesia yang harus digali tentunya dengan mengkombinasikan dan bekerja sama untuk kemajuan bangsa dan negara.” Sebenarnya banyak yang bisa kita hasilkan, banyak yang harus kita bagi dengan bangsa ini, negeri ini rindu para pemudanya. Ditambahkan beliau, ada selipan khutbah jumat, menurut khatib,”banyak orang cinta harta, cinta jabatan, cinta pekerjaan, cinta status, dan cinta fana lainnya, tapi pernahkah kita mengintegrasikan dan mentransformasikan cinta dunia tersebut dengan cinta kepada Allah dan bermanfaat bagi banyak orang.” Patut direnungkan !
Banyak orang berdedikasi untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini, sampai tua, sampai bekerja dengan hati, sampai bekerja dengan mengabdi, tanpa gaji, tanpa penghargaan, hanya pengabdian dan keikhlasan yang diberikan, semua itu hanya untuk putra-putri terbaik bangsa untuk selalu mengabdi pada Tuhan dan berbakti pada negeri.
Sore ini aku kekunci di kamar mandi, entah mengapa kunci kamar mandi itu cepat sekali rusak, kurang dari 2 bulan. Memang terkadang kita banyak tidak ‘apik’ terhadap barang-barang disekitar kita, mengotori, merusak, dan itulah yang membuat keburukan datang kepada kita. Karena Allah memerintahkan manusia, “Janganlah membuat kerusan di muka bumi”. Mungkin aku juga pernah, mungkin mereka pernah, dan kini harus sadar bahwa, itu bukanlah hal yang baik.
Aku pulang selepas magrib, selepas mendownload jurnal-jurnal dari luar negeri, dari kawanku yang pernah sekolah di luar negeri, sungguh mudah, dan kalau aku sendiri amatlah sulit.
Aku pulang menggunakan angkutan umum, hari itu, angkot terlihat sepi, penumpangnya hanya aku, dan ada penumpang lain setelah berjalan 500 meter kemudian, naik lagi sepasang ibu dan bapak yang cukup harmonis, ditengah perjalan, tiga orang wanita berpakaian hitam dan berdandan begitu manis naik, aku kurang tau saat itu jam berapa, tapi ku pikir masih kurang dari jam setengah 8. Aku kaget setelah mengetahui mereka akan ke tempat lokalisasi, menjajakan harta yang seharusnya dipelihara, aku terperangah, aku tau karena aku mendengar percakapan mereka, meski tak baik menguping namun aku terpaksa, karena headsetku rusak, mereka masih memiliki suami, memiliki anak, entah mengapa mereka melakukannya. Astagfirullah, semoga Allah memberi jalan. Salah satunya berkata, Terkadang jika sedang cek-cok dengan suami mereka, mereka lampiaskan ke anak mereka, lalu pergi ke tempat lokalisasi, sungguh begitu perih. Disaat Masih banyak orang yang bekerja begitu keras, tak patah arang, dilain pihak banyak orang yang memilih jalan hitam, tanpa berpikir panjang, Allah amat mencintai pekerjaan halal. Allah pasti menjamin rezeki hamba-Nya, tak ada yang Allah tukar, tinggal bagaimanakah usaha kita, sedikit, banyak, atau lari dari keadaan. Semoga Allah mengampuni dan memberi jalan hidayah-Nya.
Aku turun dari angkot, malam begitu gelap, benar-benar tanpa bintang, mendung. Lelah pikirku, disaat aku pulang beberapa orang pergi bekerja, lelah sekali pikirku, supir angkot malam, suster yang bekerja malam, dan pekerjaan yang menuntut harus terjaga dimalam-hari, Aku suka mengeluh, padahal setiap malam aku bisa istirahat, namun tak jarang orang diluar sana terjaga, bekerja, mencari nafkah, menunaikan amanah dan kewajiban.
Alhamdulillah sampai rumah, dan ku dengar dari adikku, teman adikku menghadap Allah SWT, karena menjadi korban perampokan kendaraan bermotor. Aku masih ingat ketika adikku masuk SMP, SMP negri, SMP yang berbeda dari kedua kakaknya, dan mungkin di SMP inilah yang mengajarkan adikku bagaimana sulitnya mencari uang, bagaimana beberapa orang banyak yang tidak beruntung. Salah satunya teman adikku ini, dua tahun beliau tinggal di departemen sosial, karena orang tuanya tidak mampu, dan masih ingat ketika adikku menceritakan kepadaku bahwa teman-teman sekolahnya patungan untuk membiayai ongkos pulang teman adikku itu ke sumedang, Sungguh kepedulian teramat sangat, dan hari ini adikku pergi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk melepas kepergiannya terakhir kali. Semoga Allah memberikan ampunan dan selalu Allah beri tempat yang indah, diterima amal dan ibadahnya. Semoga perampok itu sadar, bahwa ia telah menghilangkan nyawa seorang anak yang tak berdosa, menghapus impian yang anak itu lukiskan di setiap mimpi, menghapus cita yang begitu tinggi, dan melepas semua harap indonesia untuk menunggu puteranya membangun negeri.
Malam ini kututup dengan berita seseorang yang sangat sulit mengahadapi kematian. Allahu’alam. Semoga kita selalu memperbaiki amal ibadah kita. Sehingga memiliki bekal untuk kehidupan akhir nanti. Insya Allah
Astagfirullahaladzim, semoga Allah senantiasa mengampuniku. Banyak pelajaran yang kudapat hari ini, banyak makna yang tergali hari ini. Kehidupan ini pada dasarnya sementara, pada dasarnya hidup ini pilihan, dan hanya kepada Allah lah kita berharap dan berserah diri.
Semoga selalu menjadi hamba yang dekat dan cinta dengan-Nya dan semoga Allah selalu memberkahi dan memberikan pertolongan …
Untuk Tuhan, Untuk orang-orang sekelilingku, untuk negeriku, untuk bangsaku ….
Semoga menjadi Insan yang terus memperbaiki diri, Insya Allah …