22 NOVEMBER 2011
Emang, kalau yang namanya ide nulis angin-anginan. Seadanya inspirasi yang ada, seadanya ide yang lewat, dan seadanya waktu yang disempatkan. Tapi gue juga bingung, kenapa akhir-akhir ini tulisan gue berbau melankolis, meski tidak dapat dipungkiri sangguinis gue juga gak ilang-ilang banget. Nah karena tulisannya rada melankolis. Hari kemarin, mamah tercinta minta tolong mengirimkan dokumen via email, ya sama lah kaya orang-orang lain, emailnya sih cuma 5-10 menit, itu juga kelamaan attach filenya, sisanya ngalor-ngidul.
Pas buka sebuah jejaring sosial yang masih jadi trend, facebook, abis itu klik-klik grup-grup yang diikutin, pas disitu ada sebuah link menarik dari teman, http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/ , mengenai bapak tua penjual amplop, ternyata banyak orang diluar sana yang masih peduli dengan orang lain, Subhanallah.
Pas selesai baca, nggak nyangka aja ternyata ada pengalaman penulis blog itu mirip kejadian yang pernah dialami, gue sering banget liat bapak-bapak penjual amplop di depan masjid kampus, emang jarang ada yang beli, lagian juga terkadang aneh juga kalau ada yang beli amplop segepok-segepok (lebay …). Cuma, gue juga nggak tau, suatu hari tiba-tiba gue niat banget pengen beli amplop bapak tua penjual amplop itu, besok harinya selepas shalat zuhur, akhirnya gue paksain buat menemui bapak itu, meski awalnya gue harus menegur bapaknya sampai tiga kali, karena bapaknya matanya menatap nanar kosong. Pas gue negur gitu, ada ibu-ibu yang lagi nunggu berkata “Oalah pak, dagangannya mau dibeli ko malah bengong”, gue jadi ngerasa salah soalnya bapak-bapak tua itu malah diinterpretasikan buruk oleh orang lain. Mungkin lagi banyak masalah pikirku. Bapaknya pun senang jika ada yang membeli dagangannya, terharu. Awalnya gue juga bingung, ni amplop buat apa, tau-taunya lebaran dan surat-menyurat banyak dilakukan, alhasil terpakai habis.
Nggak bisa dihindari bahwa gue harus mengakui bahwa melankolis gue terlalu besar untuk ditutupi, entah kenapa gue paling kagak tega kalau liat orang tua yang sudah renta harus mengemis, jualan, dan melakukan pekerjaan keras lainnya, begitu juga dengan anak-anak kecil yang gak punya kebahagiaan yang sama dengan gue.
Kadang-kadang tiap hari gue harus cari jalan alternatif ataupun waktu alternatif, buat menghindari ibu-ibu tua penjual AUG, makanan khas sunda dari tepung beras yang dicampur gula merah, harus gue paparkan bahwa aug ibu itu enak banget, gue juga suka pisan, banyak juga makanan kecil lain yang beliau jajakan, sesekali nenek aku beli, sesekali mamah aku beli, sesekali aku beli, tetapi namanya manusia kadang ada bosen, atau keuangan lagi pasan surut, terpaksalah kita tidak membelinya, tapi tetep aja, kalau ibu itu nawarin, gue bener-bener nggak tega kalau harus bilang “nggak dulu bu” atau “makasih bu” atau “besok aja bu” atau seribu satu alasan lain, rasanya batin gue ngeringis (serius lo, nggak lebay). Walhasil kalau emang gue nggak beli, gue usahain nggak ketemu ibu itu, bukan gue kesel, Cuma gue bener-bener kagak tega kalau harus mengatakannya.
Gue juga kadang suka iseng-iseng merhatiin lingkungan, ternyata di tempat gue mengemban amanah pendidikan sebagai anak juga ada yang sedih, disaat para pekerja lain memiliki baju bagus, kendaraan, dan lainnya, ada beberapa pekerja yang hidup pas-pasan dan nggak beruntung. Itu baru dilingkungan gue sehari-hari, gue nggak tau lagi keadaan diluar sana.
Senin-jum’at gue ke kampus kecuali sabtu atau ahad kadang-kadang, Gue punya beberapa jalan alternatif, pertama lewat Pasteur, lewat geger kalong, atau lewat pajajaran/batas kota, rasanya gue nggak pernah lewat ke tiga jalan itu nggak ada pengemis tua dan anak-anaknya, nggak jalan ke kampus gue, nggak jalan ke sekolah gue dulu, sama aja mirisnya. Kadang, kata orang-orang ngasih gitu aja nggak ngedidik untuk hidup mandiri, tapi tetep aja, gue nggak akan pernah tega, toh gue juga nggak punya alasan yang pas buat nggak ngasih. Gue pernah iseng-iseng berpikir, gimana ya kalau jalan yang gue lewati nggak ditemui pengemis/penjual bapak-bapak/ibu-ibu tua dan anak-anak kecil, pasti di jalan gue nggak akan banyak mikir banget (jalan aja mikir ya). Gue juga suka berpikir bapak/ibu tua lebih baik istirahat di rumah, menikmati hari tua, berkumpul bersama keluarga. Anak-anak bermain dan belajar menikmati usia dini mereka, bersiap untuk menjadi generasi hebat penerus selanjutnya. Tapi apa daya gue saat ini, gue Cuma bisa nulis, cerita sama orang-orang. Meski, gue juga berharap suatu hari semoga Allah memperkenankan rezeki kepada gue, memperkenankan kepedulian di hati gue, biar suatu hari gue bisa memberdayaakan kaum tua, kaum dhuafa, dan ikut berpartisipasi mencerdaskan anak bangsa… Gue pengen jadi orang kaya, kaya hati, ilmu, dan lainnya dan bisa bermanfaat buat orang lain, mudah-mudahan jangan jadi orang kaya yang setelah kaya terlampau lupa, yang selalu senang untuk hidup enak sendiri disaat sedih ada disekitarnya (Na’uzubillahimindzalik) … Dan juga semoga Allah terus melimpahkan kesejahteraan untuk negeriku tercinta, karena gue yakin suatu saat negeri emas ini akan menguning kembali, diatas merah pengorbanan, dan kesucian hati para rakyat dan pemimpinnya … JAYALAH TERUS INDONESIAKU ….