13 Januari 2011, menjelajahi Gunung Manglayang …
Libur, mungkin semua orang senang, tapi tak jarang diantara kita yang merasa bosan, terkungkung aktivitas yang tak menentu. Kadang, aku merasa senang, dilain pihak aku juga terkadang bosan. Bukan salah waktu yang membosankan, tetapi kitalah yang terkadang tidak bisa mengolah waktu yang indah menjadi menyenangkan.
Libur semester ini terasa berbeda, dimana kini aku lebih bermain emosi dan hati, bukan kehendak. Meski masih deg-degan menunggu nilai semester ini keluar, aku berusaha berdoa, semoga Allah selalu memberi aku yang terbaik. Semester ini aku lebih pasrah, karena aku percaya bahwa Allah punya sesuatu yang baik, mungkin hari ini, nanti, ataupun seterusnya. Jangan mengeluh ataupun terus-menerus meratap.
Libur semester ini kuputuskan untuk mengerjakan tugas akhir, meskipun pada akhirnya aku harus menerima bahwa satu minggu aku harus rela menunggu. Sambil menunggu, kuputuskan untuk pulang dimalam tahun baru, dan syukur Alhamdulillah aku bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besarku, semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan-Nya kepada kami.
Nilai sudah keluar, ku ucap syukur kepada Allah SWT, meskipun ada rasa sesal, tapi aku harus lapang dada, semuanya punya resiko, kita harus tetap semangat, jika usaha dan doa kita sudah maksimal, Insya Allah, Allah akan member sesuai apa yang kita usahakan.
Pada waktu yang tak terduga, sahabat-sahabatku mengajakku menjelajahi gunung manglayang, yang berada di Jatinangor, memang gunung ini tak setinggi gunung-gunung lain di jawa barat, yang mendaki masih jarang, menurut beberapa orang tantangannya kurang, tapi bukan masalah, ini perjalanan dan pengalaman. Awalnya sedikit urung, karena sudah lama tidak menjelajah, dan kondisi fisik yang kurang fit, ternyata ada masalah dengan imunitas tubuhku, padahal awalnya kukira karena eksperimen instantku . Tapi mungkin dengan izin Allah, akupun memutuskan pergi, berharap aku bisa banyak belajar dari perjalanan ini.
Perjalan dimulai dari pangkalan dipati ukur, perjalan menggunakan bus DAMRI untuk ketiga kalinya, sekarang aku sudah mulai terbiasa, dan tidak heran dengan aktivitas yang ada, hari itu hujan mengguyur kota bandung dan sekitarnya, namun itu semua tak menghambat niat kami untuk mendaki. Perjalan dari dipati ukur menuju Jati Nangor memakan waktu kurang lebih 1.5 jam.
Disini ada sepotong cerita selipan yang lucu, sahabat kami yang lain seorang mahasiswi UNPAD telah menunggu kami di PANGDAM, awalnya kami kita PANGDAM itu seperti kantor tentara, dengan inisiatif tinggi kami menuju kampus IPDN, yang ada patung seperti jendral, kami Tanya kepada seorang tukang kebun yang sedang membersihkan halaman depan kampus itu, dan beliau menjawab “disini mah tidak ada PANGDAM neng, adanya juga ABRI, itu juga di dalem”. Dan ternyata setelah 30 menit berkeliling, ternyata PANGDAM singkatan dari pangkalan DAMRI, tempat kami turun tadi. Ternyata komunikasi itu penting, kami pun tersenyum geli….
Perjalan kami lanjutkan, tanpa angkot, tanpa ojek, ataupun sejenisnya, kami berjalan benar-benar dari titik 0. Awalnya aku berfikir, sepertinya aku tak kuat, tapi kutepis semuanya. Kami melewati kampus UNWIM yang kini menjadi milik ITB, bagus dan luas pikirku, udara disini lebih sejuk, dan tidak se-crowded di bandung.
Kampus UNPAD jatinangor sudah habis kami telusuri, dan perjalan ini masih jauh. Bumi perkemahan pun telah kita lewati, tugu bertahtakan tunas pramuka itu mengingatkanku akan kegiatan pramuka beberapa tahun silam. Kami melewati track kiara payung. Kami begitu menikmati hari ini, hari ini pikiran terbebaskan, rasa sakitpun tak kurasa, aku masih menunda bebanku yang harus kuhadapi esok.
Kami terus berjalan, nafas ini mulai terengah, dadaku mulai sakit, sudah lama ini tak kulakukan, tapi aku masih bertahan. Sepanjang jalan kami bertemu dengan warga sekitar, mungkin banyak orang heran kami se-nekad itu, tak ada sedikitpun hasrat untuk membahayakan diri, merasa paling hebat, ataupun kita paling mampu. Tetapi satu hal yang ingin kami ingin dapatkan kebersamaan. Aku bangga dengan teman-temanku yang tak pernah mematahkan semangatku, dan selalu menghiburku bahwa perjalanan tinggal sedikit lagi, meski aku tau jalan ini masih panjang. Aku juga bangga pada teman-temanku yang tak pernah bosan membantuku hingga sampai ke tempat tujuan, yang tak pernah bosan menungguku ketikaku letih, dan tak pernah bosan yang mendengar keluhanku, “masih jauh ya ?” atau “lama bener ya” atau “boleh istirahat bentar ga?” Atau keluhan lainnya.
Perjalan ini sangat panjang, dan ini menambah rekam jejak petualangan-petualanganku yang lain. Kami merayap, menyerodot, terjatuh, terkena duri, menerobos kebun warga, merangkak, mencoba berdiri di kemiringan kurang dari 45o, tersesat di jalan, dan petualang-petualang menantang lainnya, tapi kami masih bangkit. Motivasi kami lainya adalah petani sekitar gunung, baik bapak-ibu, tua-muda, mereka begitu gigihnya bertani, menaiki gunung dan menuruni gunung, sama seperti kami, tetapi mereka lakukan setiap hari, untuk mencari nafkah, yang mungkin tak seberapa, tapi tak kudengar sedikitpun rasa keluh dan bosan, karena mereka memerlukannya, ironis, perjuangan mereka yang sekeras itu tak sebanding dengan penghasilannya, meski terkadang kita menyia-nyiakan apa yang mereka hasilkan seperti membuang sisa makanan yang tak kita habiskan. Sepanjang perjalanan banyak laba-laba raksasa, ular yang tergilas/terinjak kendaraan, namun kami tepis semua ketakutan itu, kami memang perempuan, tetapi bukan alas an untuk berhenti, kita memang diciptakan lemah, tapi bukan lemah terhadap keadaan, yang terpenting dari semua itu, kita harus punya safety dan memahami keadaan kita, jangan memaksakan.
Shalat di alam bebas, mengambil wudhu dari mata air, membasuh wajah dari sungai bening yang mengalir, makan bersama di kaki gunung, istirahat dibeberapa tempat, memberikan sensasi yang berbeda. Nafas ini begitu lega, bebas asap pabrik, kendaraan, ataupun rokok. Meski aku khawatir, karena di kaki gunung dan beberapa gunung disamping Manglayang, banyak yang gundul, banyak yang membuka lahan perkebunan, lereng jadi begitu terlihat, pohon-pohon kuat tidak berpijak, entah keindahan ini masih bisa bertahan lama. Berbagi makanan dengan anak-anak diperjalanan juga memberikan rasa tersendiri. Dan yang paling penting aku bisa mendapatkan gambar yang bagus dari foto-fotoku, mengasah ilmu dan belajar dari alam memberikan “chemistry” yang sangat baik.
Selepas ashar, kami pun turun, karena mengejar bus pulang. Tak disangka Alhamdulillah, masih banyak orang baik yang menawarkan tumpangan turun, setelah 2.5 jam perjalanan turun, kamipun mendapat tumpangan. Alhamdulillah kami mendapatkan bus pulang, perjalanan ini melelahkan, tapi aku menikmatinya. Banyak pelajaran yang dapat kuambil.
Toward Manglayang Mountain is the best experience,
Never ending story for this adventure
Thanks For All My Friends, Who always hold my hand, who always make me happy, who always stand inside me…
Sorry for my mistakes …
Allah bless Us, PETAK (Perempuan Tangguh Kimia) always stay in my heart …
